Go Home

Tensi Perbatasan China-India Mulai Ganggu Industri Otomotif

Tensi Perbatasan China-India Mulai Ganggu Industri Otomotif
Jakarta -

Pasca bentrok antara China-India di lembah Galwan, Ladakh perbatasan Himalaya, kondisi dua negara masih tegang.
Bahkan, mulai berdampak dengan industri otomotif.

Mengutip dari AutocarIndia dan Nikkei Asian, Selasa (30/6/2020) kondisi tersebut membuat negara bagian Maharashtra menunda perjanjian antara Great Wall Motor (China) terkait izin menggunakan fasilitas pabrik yang pernah digunakan General Motors.

Great Wall Motor sudah menggelontorkan uang sebesar USD 498 juta (sekitar Rp 7 triliun lebih) untuk pabrik pada Januari lalu, dan berencana mulai menjual mobil tahun depan di Talegaon, dengan merekrut tenaga kerja lebih dari 2.
042 orang.

Tapi Menteri Perindustrian Maharashtra Subhash Desai status quo itu bukan berarti pembatalan penuh.
Desai mengatakan bahwa pemerintah sedang menunggu keputusan dan kebijakan yang jelas terkait proyek-proyek dalam kondisi konflik.

Selain itu, Asian Nikkei juga melaporkan Pemerintah Maharashtra juga bermaksud untuk membekukan pabrikan Tiongkok yang memproduksi bus dan mesin listrik.

Seperti diketahui sektor industri otomotif lain yang tertunda ialah investasi besar kedua adalah dari perusahaan manufaktur Haryana yang berbasis di PMI Electro Mobility Solution yang mitra China BeiqiFoton Motor, untuk mendirikan pabrik pembuatan bus listrik di Talegaon.

Lebih lanjut, konflik perbatasan antara China dan India juga telah merambah ke perdagangan bilateral.
Bloomberg melaporkan pemerintah India mulai membahas tarif yang lebih tinggi untuk AC, suku cadang mobil, furnitur dan produk impor dari China lainnya.

Pun regulasi kualitas bahan baku lebih diperketat mulai dibahas.
Setidaknya ada 370 produk, termasuk baja dan kimia bisa diproduksi secara lokal.

Konflik ini dimulai di Perbatasan Himalaya pada 15 Juni, pasukan India dan China bentrok selama beberapa jam di Lembah Galwan, menggunakan batu dan tongkat dengan paku yang tertancap untuk saling memukul.
Insiden ini menewaskan 20 tentara India dan melukai setidaknya 76 lainnya.
China belum mengungkapkan berapa banyak korban yang diderita pasukannya.

Bentrok ini menjadi konflik pertama yang mematikan antara China dan India selama 45 tahun.

Perdana Menteri India Narendra Modi tidak bisa tampil lemah di depan Tiongkok.
Tetapi juga tidak bisa menutup investasi China yang bisa merusak perekonomian India yang sudah mulai melemah lantaran virus Corona.
Pun International Monetary Fund memperkirakan pertumbuhan ekonomi di India tahun ini menjadi 4,5 persen negatif.
Ini menandai kemerosotan terburuknya sejak krisis minyak pada akhir 1970-an.

Simak Video "China-India Alami Konflik, Bos Xiaomi: Tak Berdampak ke Bisnis Kami"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)

Artikel bermanfaat lainnya :

McD Sarinah Tutup, Kenapa Kenangan Masa Lalu Selalu Bikin Baper?

McD Sarinah Tutup, Kenapa Kenangan Masa Lalu Selalu Bikin Baper?

Momentum ini menjadi suatu reminder atau pengingat bagi orang tersebut."Entah baju, restorannya, entah itu lagu itu terkait dengan hal-hal tersebut kemudian terjadi sesuatu, misalnya ditutup lah tempatnya, band musiknya bubar, penyanyinya ada yang passed

Baca selengkapnya

Podcast Tolak Miskin: Tagihan Listrik Tiba-tiba Bengkak! Kok Bisa?

Podcast Tolak Miskin: Tagihan Listrik Tiba-tiba Bengkak! Kok Bisa?

Sebagian besar beranggapan kenaikan tagihan listrik tak masuk akal, melebihi dari kenaikan konsumsi yang terjadi selama WFH.Pertanyaan timbul, ini beneran karena pemakaian yang berlebihan atau tarif listriknya naik?Nah, Podcast Tolak Miskin kali ini akan

Baca selengkapnya

Potret Kesibukan Petugas Ambulans COVID-19 di Inggris

Potret Kesibukan Petugas Ambulans COVID-19 Di Inggris

Tak ayal, petugas ambulans pun tampak sibuk lalu lalang menjemput para pasien Corona. Inggris memiliki 207 ribu kasus COVID-19 dan tertinggi keempat dunia.

Baca selengkapnya