Go Home

Pekarangan Rumah Disulap Jadi Kebun Belimbing Dewa Yang Menguntungkan

Pekarangan Rumah Disulap Jadi Kebun Belimbing Dewa yang Menguntungkan
Jakarta -

Dengan memanfaatkan lahan kosong di pekarangan rumahnya, pria di Depok ini berhasil menanam belimbing dewa yang bernilai ekonomis.
Begini kisahnya.

Belimbing dewa disebut-sebut sebagai ikon kota Depok.
Buah belimbing dewa memiliki ciri khas, yaitu pada ukurannya yang cenderung lebih besar dan rasanya yang manis segar.

Tentu saja, belimbing dewa mudah ditemui di Depok.
Bahkan di sana awalnya banyak terdapat lahan-lahan perkebunan belimbing.
Namun, kini sudah berkurang karena tergusur oleh pembangunan.

Baca Juga :Belimbing Dewa Ikon Kota Depok yang Manis Tapi Mulai Langka

Kini masyarakat Depok memilih membudidayakan belimbing dewa menggunakan lahan pribadi.
Seperti yang dilakukan oleh Mashud Fernando atau yang akrab dipanggan Bayong.

Bayong menyulap pekarangan rumahnya menjadi kebun belimbing.
Lokasinya berada di kawasan kecamatan Pasir Putih, Depok.
Kawasan tersebut memang terkenal dengan perkebunan belimbing dewa.

"Jadi zaman dulu orang yang nanem ini kan orangtua kita.
Kita cuma melanjutkan pakai tanah-tanah dari pekarangan rumah yang dimanfaatkan, ditanami buah belimbing," ujar Bayong kepada detikcom (18/19).

Lebih lanjut, Bayong menyebut bahwa perkebunan belimbing dewa ini bisa bernilai ekonomis.
Mengingat masa perputaran panen belimbing yang terbilang tak mengenal musim.

Bayong menjelaskan bahwa masa panen buah belimbing dewa dapat direkayasa.
Biasanya perputaran masa panennya adalah tiga bulan sekali.
Jadi, dalam setahun, bisa panen sebanyak tiga kali.

Meski begitu, perawatan kebun belimbing dewa ini terbilang rumit.
Setelah panen, pohon belimbing harus dibersihkan dari gulma.
Kemudian disemprot pestisida.
Buah belimbing akan tumbuh di batang hingga di ranting pohon.

Setelah tumbuh menjadi buah, buah tersebut harus dibungkus menggunakan plastik agar tidak dimakan hama.
Buah belimbing mulai dibungkus ketika ukurannya sudah sebesar jari jempol tangan orang dewasa.

"Memang perawatannya juga sedikit rumit, karena betul-betul harus teliti dan harus dilakukan secara seksama gitu.
Karenanya harus dibungkus, disemprot dan lain-lain," tutur Bayong.

Setiap panen jumlah belimbing yang dihasilkan berbeda-beda.
Itu tergantung dengan ukuran pohon belimbing dan banyaknya jumlah pohon belimbing.
Bayong sendiri memiliki sekitar 20 pohon.

"Kalau misalnya pohonnya besar, terus saya punya 20 pohon dan buahnya full, setiap pohon bisa menghasilkan 2 kuintal.
2 Kuintal dikali 10 pohon bisa 2 ton," tutur Bayong.

Hasil panen belimbing Dewa ini didistribusikan ke pedagang-pedagang buah.
Bayong sendiri memiliki tengkulak-tengkulak yang rutin mengambil buahnya ketika panen untuk dijual.

"Ada tengkulak-tengkulak yang ngambil ke sini.
Artinya pata pedagang-pedagang tradisional dan mereka akan mendistribusikan ke pasar-pasar seluruh Jabodetabek," ujar Bayong.

Untuk harga yang ditawarkan untuk satu kilogram belimbing dibanderol sekitar Rp 8.
000 hingga Rp 12.
000.
Bayong juga melayani jika ada orang yang ingin membeli perkilo bukan borongan.

Baca Juga : Hampir Terlupakan! Dodol Belimbing yang Manis Enak Khas Kota Depok

Simak Video "Belimbing Dewa, Si Manis Ikon Kota Depok"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/odi)

Artikel bermanfaat lainnya :

Cara Membedakan Batik Tulis dengan Batik Cap dan Print

Cara Membedakan Batik Tulis Dengan Batik Cap Dan Print

Melihat dan membedakan batik yang dibuat dengan teknik tulis, cap, dan print secara kasat mata mungkin terbilang sulit. Pasalnya, motif yang dihasilkan dari ketiga teknik tersebut bisa saja terlihat serupa. Lalu bagaimana cara membedakannya?

Baca selengkapnya

Panglima TNI Ziarah Nasional-Tabur Bunga di TMP Kalibata

Panglima TNI Ziarah Nasional-Tabur Bunga Di TMP Kalibata

Prosesi tabur bunga ini dilakukan dalam rangka peringatan HUT ke-75 TNI. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama kepala staf angkatan berziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jumat (2/10).

Baca selengkapnya

Hari Batik Nasional, Sudah Tahu Arti Kata Batik?

Hari Batik Nasional, Sudah Tahu Arti Kata Batik?

Kata batik berasal dari bahasa Jawa yang sebenarnya merupakan gabungan dari dua kata yakni `amba` yang berarti lebar atau luas dan `tik` atau `nitik` yang berarti titik. Canting sendiri berisi cairan lilin yang panas.Meskipun kata batik berasal dari baha

Baca selengkapnya