Go Home

Ini Cara Membangun Komunikasi Pada Anak Menurut Usianya

Ini Cara Membangun Komunikasi pada Anak Menurut Usianya
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita TRIBUNNEWS.
COM, BANDUNG - Pola komunikasi yang baik antara anak dan orangtua harus dibangun semenjak dini.
Bagi para orangtua jangan abaikan masa tumbuh kembang ya, karena menurut Indra Kusumah S.
Psi.
, M.
Si.
, CHt selaku Humas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A ) Bandung, awal mula terbentuk karakter anak berasal dari peran orangtua.
Menurut Indra, orangtua harus paham bagaimana tingkat pertumbuhan anak yang dimulai sejak usia 0-17 (remaja).
Bawa Ponsel saat Mandi, Gadis ini Tewas Tersengat Listrik, Polisi Terkejut Lihat Foto Terakhirnya https://t.
co/sG5f4NydoX via @tribunjabar — Tribun Jabar (@tribunjabar) July 17, 2017 Beginilah cara membangun pola komunikasi anatara anak dan orangtua berdasarkan usia:1.
0-7 tahunDi usia 0-7 anak masih belum bisa membedakan hal yang baik dan benar, mana yang fiksi dan realita, bahkan anak cenderung meniru orang yang berada di sekelilingnya.
Ada baiknya anak diperlakukan bagaikan raja dan ratu, tetapi tentu sudah diberikan nilai aturan kepada anak sehingga mereka mampu memilih apa yang baik dan tidak.
Bagi para orangtua buatlah kenangan indah sebanyak mungkin bersama anak, proses membangun kenangan ini akan berpengaruh terhadap alam bawah sadar anak.
Sehingga ketika anak diberikan energi yang positif sejak kecil, tumbuh kembang ketika dewasa sudah memiliki bekal di alam bawah sadarnya.
  2.
Usia 7-10  tahunDi usia 7-10 anak cenderung senang bermain dan sulit untuk di atur, oleh karena itu orangtua harus mulai bersikap tegas kepada anak.
Bukan keras, tetapi tegas.
Orangtua harus bisa belajar bagaimana cara menyampaikan bentuk ketegasan kepada anak.
Memberikan aturan seperti bermain di siang hari dan mengulas pelajaran di malam hari bisa membantu anak belajar me manage waktunya.
3.
Usia 10- 17 (remaja)Di usia 10-17 tahun, orangtua harus memperlakukan anak sebagai teman bukan tawanan.
Ketika seorang anak diperlakukan sebagai tawanan jangan salahkan jika anak lebih senang bermain bersama temannya.
Di usia remaja, orangtua harus bisa membuat anak merasa dirinya adalah teman sehingga anak tidak bablas mencari teman lain ketika memiliki masalah.
Ia akan merasa saya juga punya teman dirumah, teman curhat dan di posisi superti ini  butuh kesiapan orangtua untuk menurunkan level gengsinya.
Sebagai makhluk sosial yang mengharuskan manusia untuk bersosialiasi, orangtua harus bisa membuat anak merasa jika rumah adalah markas utamanya, sebagai tempat yang di rindukan.
Jika orangtua sudah dekat dengan anak, maka menginstall nilai akan lebih mudah, membangun komunikasi, dan membangun empati.
Jangan sampai anak memiliki  empati yang tumpul sehingga tidak mampu memposisikan dirinya jika berada di posisi kekerasan terhadap teman lainnya.
(*)

Artikel bermanfaat lainnya :